Abstract
<jats:p>Pemeringkatan ESG (Environmental, Social, and Governance) kini menjadi instrumen penting dalam menentukan reputasi, akses pasar, dan daya saing perusahaan global. Namun, di balik meningkatnya pengaruhnya, sistem pemeringkatan ESG juga menghadapi kritik terkait bias metodologi, ketidakkonsistenan standar, serta risiko ilusi objektivitas. Artikel ini mengulas temuan utama laporan Rate the Raters 2025 dari ERM Sustainability Institute yang memotret persepsi 386 praktisi korporat di 39 negara terhadap perkembangan industri ESG rating. Hasil survei menunjukkan terjadinya pergeseran orientasi ESG dari kebutuhan investor menuju tuntutan rantai pasok global, ditandai meningkatnya peran EcoVadis sebagai instrumen akses pasar. Perusahaan juga semakin selektif dalam memilih lembaga pemeringkat akibat meningkatnya beban pelaporan regulatif seperti CSRD dan ISSB. Meskipun tingkat kepercayaan terhadap ESG rating meningkat secara moderat, mayoritas perusahaan masih memandang sistem ini secara pragmatis, bukan sepenuhnya kredibel. Artikel ini menegaskan bahwa masa depan ESG bergantung pada kemampuan menciptakan penyelarasan metodologi, integrasi dengan regulasi, serta keseimbangan antara standar global dan materialitas lokal. Bagi Indonesia, penguatan interoperabilitas standar nasional dengan sistem rating global menjadi kebutuhan strategis untuk menjaga daya saing keberlanjutan perusahaan nasional.</jats:p>