Abstract
<jats:p>Banyak orang berpendapat kesantunan adalah urgensi abad ini. Sebelum kita membahasnya mari kita runtut terlebih dahulu. Berbicara tentang kesantunan, adab, hingga budi pekerti ini identik dengan individu (personal). Individu biasanya adalah bagian dari kelompok kecil dalam kehidupan masyarakat. Kelompok kecil ini yang nantinya akan menjadi bagian dari suatu kelompok dalam skala yang lebih besar atau biasa kita sebut suatu bangsa. Bangsa Indonesia pada jaman kolonial hingga pradigital dikenal sebagai bangsa dengan kesantunan, adab, hingga budi pekertinya yang luhur. Indentitas itu yang akan selalu tergambar jelas dalam hati dan pikiran warga negara Indonesia, hal itu juga yang membuat bangsa Indonesia seakan-akan mempunyai rambu-rambu khusus yang ada dalam diri untuk mengontrol prilaku dalam kehidupan sehari-hari. Namun, identitas itu kini kembali dipertanyakan eksistensinya, bahkan ada sebuah penelitian yang menggambarkan masyarakat indonesia adalah masyarakat yang paling tidak santun se-Asia Tenggara. Tentu hal itu bagai banjir di musim kemarau, cukup mengejutkan. Memang penelitian tersebut hanya bersumber dari pengamatan terhadap masyarakat pengguna media sosial di Indosensia atau lebih dikenal dengan sebutan netizen +62. Bagi saya yang seorang pemikir tentu tidak akan begitu saja percaya terhadap klaim tersebut, harus ada kajian dan telaah lanjutan untuk kita dapat mengetahui realitasnya. Namun, bagi masyarakat awam tentu ini ibarat “di pukul dari arah belakang”, ia bisa tidak tahu siapa pemukulnya atau bahkan sebab kenapa ia di pukul. Nah, kira-kira gambaran awal ini yang akan penulis bawakan sebagai pemantik semangat untuk melakukan telaah lebih lanjut. Ada beberapa masalah menarik yang akan penulis angkat yang tentu juga hal ini dapat mewakili kegelisahan kita bersama, diantaranya: 1) Apakah benar adab dan kesantunan masyarakat indonesia sudah benar- benar luntur? 2) Apakah kesantunan masyarakat Indonesia sudah terwakili oleh netizen indonesia? 3) Apakah karakter masyakat indonesia masih terjaga dan lestari hingga saat ini dan pengguna media sosial Indonesia tidak bisa begitu saja menjadi representasi masyarakat indonesia dalam dunia nyata, Atau 4) Jangan-jangan adab, kesantunan, hingga budi pekerti indonesia sedang menjadi objek propaganda bangsa asing untuk menghilangkan identitas positif masyarakat Indonesia melalui isu-isu provokatif. Nah jawaban lengkap, lugas, dan tuntas akan penulis sajikan berdasarkan pengamatan, telaah, dan wawancara mendalam yang nantinya akan disajikan secara menarik, rapi, dan cantik dalam buku ini. Selamat membaca!</jats:p>